Senin, 29 Juli 2019

Mencintai Tukang Bunga Part IV


Buat yang belum baca mulai part 1 silahkan klik http://www.cassiopeiaflorist.com/2019/01/mencintai-tukang-bunga-part-i.html

Setelah pertemuan Mas Herman dengan sepupu saya, terjadilah komunikasi antara ibu dan sepupu saya. Sepupu saya ini sudah cukup dewasa. Telah menikah selama lebih dari 10 tahun, dan dikaruniai 4 orang anak serta sukses menjalankan bisnis di kota Bekasi. Cukup terpandanglah di keluarga kami.

Namun, ini tidak menyurutkan pilihan keluarga saya untuk menentang keinginan menikah ini.

Ibu, sedikit hawatir dengan langkah saya untuk menikah. Dia memilih terbang ke Jakarta dan ingin berbicara langsung. Keluarga tentunya sudah mewanti-wanti

"Pokoknya tidak boleh ada pertemuan dengan laki-laki itu, apa kata orang nanti. Anak perempuan terlalu terburu-buru menikah tidak baik. Suruh saja fokus bekerja, nanti jodoh yang terbaik akan datang" begitu pesan keluarga besar di Makassar untuk ibu yang seorang diri datang menjenguk saya.

Ini bukan pertamakali ibu menjenguk saya di Jakarta. Saat ibu datang, maag saya sedang kambuh dan harus dibawa ke rumah sakit. beruntung hanya dirawat di UGD beberapa jam.

"Ibu ke Jakarta, kalau Mas herman serius, temui ibu biar jelas maksud mas Herman" kutulis chat singkat

Secara diam-diam kemudian kuatur pertemuan dengan kesan tidak sengaja di rumah sepupu saya. Kuajak ibu nginap di Bekasi menghabiskan akhir pekan. Tapi sepertinya firasat seorang ibu cukup kuat.

"Jangan sampai ada pertemuan apa-apa, jangan bikin malu ibu dan keluarga semuanya"

Mas Herman tetap menjalankan niat baiknya. Datang bertamu bertemu ibu malam itu. Yang membuat saya cukup kaget karena dia tak datang sendiri. Dia datang bersama ibu, adik, pak uztad yang belakangan saya kenal sebagai omnya dan 2 orang temannya. Full satu mobil avanza beserta beberapa parcel buah. "katanya untuk menunjukkan keseriusannya.

Beruntung Ibu telah dijelaskan oleh sepupu saya sebelum pertemuan ini, tapi tetap saja menolak secara halus.

"Ibu mau tidur dulu 10 menit" sahutnya setelah sholat isya padahal Mas herman dan keluarga telah duduk rapi di ruang tamu.

Rrrrgghhhhhhh.....

Tapi kurang dari 10 menit ibu berdiri kemudian keluar dari kamar mengenakan mukenah menemui mas Herman di ruang tamu

"Di kamar saja" sambil menatap tajam ke saya

Saya deg-deg kan. Takut kalau ada salah apa-apa. "Ya Allah kuserahkan semuanya padaMu, kali ini tidak ada rencana, saya ikuti semua takdir Mu"

Allah sepertinya mendengar doa tulus saya sambil menahan perihnya sakit maag diatas kasur. Terdengar suara tawa beberapa kali dari ruang tamu. Mencoba menguping tapi suara kipas angin lebih kencang dari suara percakapan mereka.

Baiklah, saya hanya dipanggil keluar saat pertemuan selesai kemudian diminta mengambil foto semuanya, tanpa saya.

Pertemuan ini menjadi penutup kunjungan ibu ke Jakarta. Semoga ini salah satu jalan Allah mempermudah niat menikah kami. Sambil menuju arah pulang ke Jakarta, saya menyempatkan diri melewati kios bunga mas Herman berukuran kecil di pasar. Awalnya Ibu seperti menolak tidak ingin mampir untuk menyapa.

"Buat apa mampir, nanti Ibu mau bilang apa"

Tapi semakin mobil mendekat Ibu kemudian yang meminta berhenti setelah saya menunjuk kios kecil dengan display beberapa kembang. Tidak terlihat mas Herman pagi itu hanya ada Ibunya seorang diri.

Yah kan namanya juga ibu-ibu, tadi menolak sedetik kemudian sudah turun dari mobil salam-salaman sambil cipika cipiki. Inikah yang namanya pucuk dicinta ulam pun tiba. Semoga ini pertanda baik

Dari pertemuan semalam, Ibu meminta mas Herman menemui Ayah di Makassar untuk menyampaikan maksud baiknya. Apalagi setelah foto bersama akhirnya tersebar luas di keluarga, Ibu mencoba menjelaskan bahwa Mas herman tidak seburuk foto-foto di akun instagramnya dengan rambut panjang dan muka kucel hingga akhirnya mendapatkan persetujuan dari beberapa pihak keluarga.

Sayangnya, hingga kepulangan saya saat Idul Adha 2018, Ayah masih tetap bersikeras tidak menyetujui keinginan ini. Saya tidak dapat menjelaskan panjang lebar, mengingat ayah dan saya memiliki watak yang sama-sama keras.

"Cari yang lebih baik, akan ada tiba saat nya. Menurut kau agamanya baik, yang namanya iman itu ada naik turunnya. Jangan sampai yang diperlihatkan hanya bersifat sementara" Ayah selalu punya jawaban untuk meruntuhkan keyakinan saya.

Tapi semakin di tentang, saya semakin punya alasan untuk menjadi yakin.

Saya kemudian berbicara dengan Mama, adik ibu yang membesarkan saya dari kecil. Mama kemudian ikut mengatur kedatangan Mas Herman untuk bertemu Ayah pertama kali. Sejak pertemuan dengan Ibu, Mas Herman mulai memberi uang secara teratur hasil dari jualan bunga.

"Simpan di rekening kamu, saya tidak pandai menyimpan uang. Nanti kalau cukup buat beli tiket pesawat ketemu Ayah. Tidak apa-apa ditolak, yang penting kenalan saja dulu" kutangkap niat tulus itu dari laki-laki yang baru saja ku kenal selama 4 bulan .

Setelah Idul Adha, akhirnya Ibu dan mama meminta mas Herman datang menemui Ayah. Kuatur perjalanan ini sedemikian rupa karena saya tidak bisa cuti menemani mereka. Apa kata Ayah nanti kalau saya bolos kerja.

Sayapun membuat Itenarary untuk perjalan 3 hari 2 Malam untuk Mas Herman, Ibu, Pak Uztad dan adiknya. Beruntung saat keberangkatan mereka, Pak Irwan, rekan kerja saya yang bertugas sebagai protokoler Direksi di Bandara sedang berada di Bandara. Pak Irwan kemudian mengatur perjalanan Mas herman di Bandara. Mulai dari Check in hingga masuk kedalam pesawat. Sebuah niat tulus yang akhirnya berjalan dengan mulus hingga tiba di Makassar.

Bayangkan saja, Mas Herman yang tidak pernah naik pesawat sebelumnya, disambut dengan standar penyambutan orang nomor satu di perusahaan BUMN tempat saya bekerja. Terima kasih pak Irwan!

Tiba di Makassar, Mama tetap mengabarkan keadaan terkini. Sesuai itenarary yang saya buat, Mas Herman dan keluarga hanya sempat menikmati Coto bersama Erul, teman baik saya, dan langsung check in di Hotel yang telah mama siapkan.

Erul bilang, Mas Herman sudah kelelahan naik pesawat dua jam kemudian disambut teriknya matahari Kota Makassar. Apalagi malamnya akan bertemu Ayah untuk pertama kali.

Apa saja percakapan saat makan malam ? mohon bersabar hingga part berikutnya ya....

Menjalankan niat menikah memang tidak selalu mudah, tapi selalu ada jalan untuk orang yang mau berusaha. See you next part !

0 komentar:

Posting Komentar