Selasa, 12 Maret 2019

MENCINTAI TUKANG BUNGA (Part III)


Respon pertama yang saya terima dari Ayah “oh yang penting agamanya”

Mulailah saya berfikir, mmm mungkin ini namanya jodoh. Tapi, saya memang orangnya kurang beruntung, tiap ingin mencapai sesuai harus penuh dengan kerja keras dan doa yang tiada henti. 

Jumat, pukul 3 sore, saat kantor sedang sibuk-sibuknya tiba-tiba mendaratlah surat tanda terima bouquet bunga yang harus d tanda tangani. 
“Eh bunga dari siapa?”

Sepertinya logo yang tertera diatas tanda terima cukup familiar.

“WOY KENAPA PAKAI ACARA KIRIM BUNGA SEGAAAAALAAAAAA” saya telfon Mas Herman kemudian mulailah drama telenovela. Marah-marah melalui telfon. Tapi, jauh dilubuk hati kecil saya, sebenarnya ada rasa senang mendapatkan bunga. Dan akhirnya berakhir dengan janji menemani doi ke pusat pasar bunga untuk belanja keperluaan kiosnya.

Karena belanja bunga harus dini hari, jadilah subuh itu menjadi pertama kali bertemu setelah dua minggu hanya bercakap via whatsapp.

“Saya jemput aja” Kata doi berkali-kali

Sayangnya, saya tetap bersikeras ketemu di tempat. Saya datang sendiri ke pasar bunga jam 5 subuh untuk menemui doi. Jodoh itu butuh usaha. Tapi, tidak bermaksud jual murah, hanya ingin memperlihatkan bahwa dia cukup menyita perhatian untuk ditemui.

Kesan pertama adalah urakan, tidak terurus, sangat tidak berkomitmen  karena datang telat, tapi overall yaaa buat jadi teman tidak masalah. Tapi ternyata doi bermaksud menikah. 

“Jalani dulu, saya masih usaha kirim kabar ke keluarga tentang rencana ini” 

Setelah pertemuan, doi akhirnya memberikan tugas yang lebih berat daripada menulis sebuah artikel.

“Sapa mi itu orangnya, we jangko macam-macam nah di Jakarta, lulusan mana itu laki-laki?, apa na kerja bapaknya ? mamaknya iya ? berapa bersaudara ?” Segala macam pertanyaan dengan logat khas kemarahan orang Bugis disampaikan ibu melalui telfon.

Besoknya ayah menelfon “Cari mi jodoh yang baik sekolahnya, jelas keluarga nya, kau itu jalan kesana kemari, terbang jauh-jauh, belajar di mana-mana, sekolahmu tinggi, semoga bisa dapat jodoh yang terbaik. Bagaimana nanti kehidupanmu sudah menikah sama orang yang belum dikenal, tulang punggung keluarga, bapaknya sudah tidak ada, adiknya banyak, mamanya tidak kerja”

Ayah menelfon dengan suara lirih, kutangkap keresahan beliau. Tapi, ada hal yang mengganjal, sebegitu pentingnya kah jenjang pendidikan ? harta dan semua yang ayah resahkan. Aku mengenal mas Herman memang baru kemarin, tapi dari semua pasword sosial media yang diberikan, dapat kubaca cara dia berinteraksi dengan teman-temannya. Cukup sopan dan keinginan dia untuk mengajar anak-anak mengaji setelah menutup kios bunganya akhirnya meluluhkan hati saya. Ini terus berputar-putar di pikiran saya. Di dunia ini saya sudah melihat, yang hari ini kaya, besok miskin dan sebaliknya. Saya merindukan Ayah yang dulu berkata, yang penting agamanya. Tapi sudahlah meluluhkan hati orang tua memang bukan perkara mudah.

Sejak itu saya mulai menarik diri dari Mas Herman. Saya mencoba mencari jodoh yang mungkin lebih menarik perhatian orang tua di kampung. 

Dua hari sejak menjauh dari Mas Herman, dia kemudian menelfon setelah ku reject berkali-kali

“Masih ada kah cara untuk usaha mendekati orang tua mu ?, saya serius, sangat serius” begitu kira-kira Mas Herman memohon di ujung telfon. Yang saya tahu dari sosial media nya, dia sudah berusaha mendekati wanita lainnya tapi tetap saja merasa cocok dengan saya. 

Setelah telfon ditutup, saya mulai berfikir kembali dan kemudian mengatur janji untuk bertemu dengan sepupu saya yang rumahnya tidak jauh dari Kios bunga Mas Herman untuk mengutarakan keresahan ini. Kalau mau jujur, mulai tumbuh rasa sayang ke Mas Herman. Laki-laki yang dengan tulus mengajak menikah. Menurut saya, mengungkapkan rasa sayang, cinta, kagum atau apapun itu kepada lelaki bukan hal yang tabu. Setiap manusia mempunyai hak untuk mengungkapkan rasa sayangnya. Cuman, bersabarlah jika harus bertebuk sebelah tangan. 

“Perempuan, jika menginginkan jodoh, usaha terbaik yang dapat dilakukan yaaaa berdoa” begitu kira-kira nasehat yang diberikan sepuou saya. Dia juga penasaran, seperti apa tampang pria yang membuat saya jatuh cinta dan berani mengutarakan perasaan kalau saya mulai sayang melihat keseriusan dia. 

Curhat tentang mas Herman kemudian berakhir dengan pesanan bunga sepupu yang harus diantarkan kerumahnya demi bertemu satu sama lain.

“Saya belum pernah naik pesawat pak seumur hidup, mungkin kalau harus bertemu ayah Ica di Makassar, akan saya usahakan” begitu kira-kira jawaban Mas Herman ketika ditantang untuk bertemu keluarga saya di Kampung.

Dari semua percakapan malam itu, ada satu jawaban yang mungkin menjadi pelajaran bagi pria lainnya yang ingin melamar wanita Bugis yang terkenal mahal. 

“Biar hingga 200 juta pak, jika Ica memang jodoh saya pasti akan ada jalannya”

Setelah hari itu berlalu terjadilah perang dingin antara saya dan keluarga besar yang kurang setuju dengan perjodohan ini. Tidak ada yang bisa disalahkan. Saya hanya ingin menikah untuk melangkah ke jenjang kehidupan selanjutnya. 

“Jika kau belum yakin, masuk syurga, menikahlah, karena itu ibadah terpanjang dan terlama. Butuh ekstra kesabaran dan doa” Begitu kira-kira nasehat Emi, teman dekat saya.

Di sisi lain, orang tua mana yang rela melepaskan anaknya menikah dengan lelaki yang belum jelas identitasnya dan harus menjadi tulang punggung untuk ibu dan 6 adik-adiknya. Namun saya selalu percaya 

“Tidak ada keputusan yang terbaik di dunia ini, mau menikah dengan siapa saja asal orang tua ridho, maka kebahagiaan insya Allah lebih nyata” ini menjadi motivasi saya, bukan hak kita untuk menghawatirkan masa depan, sungguh Allah tidak membebankan ciptaanNya di luar kendali nya. Sudah bisa jadi infal mama Dede kan yeeeee…. :)

Di dunia ini ada 2 jenis manusia, satu yang memilih menghabiskan tenaga dan pikiran dalam merencanakan hidup, dan yang satunya lebih memilih menghabiskan tenaga dan pikiran dalam menjalani pilihan yang tidak direncanakan. Saya termasuk manusia yang lainnya. Tidak ada yang lebih baik, ini tergantung dari cara Anda menjalani pilihan. Sekali lagi, masa depan adalah milik Allah. 

Dalam menjalani pilihan saya berprinsip, lakukan sepenuh hati atau tidak sama sekali. 

Lalu bagaimana cerita Anak betawi dalam melamar putri Bugis dalam perjalanan pertama kalinya menggunakan pesawat ? 
Tunggu part selanjutnya .


Yang mau ngirim Bouqet mengutarakan rasa sayangnya, sini sini saya bantu, pilih aja dulu di http://www.cassiopeiaflorist.com/p/occasions.html 

0 komentar:

Posting Komentar