Selasa, 05 Februari 2019

MENCINTAI TUKANG BUNGA (Part II)


Ternyata menurut saya, ditanya kapan menikah tidak seberapa menyakitkan dibandingkan disuruh menikah, dikasi kriteria, nggak ada yang bantuin cari jodoh, begitu ketemu orang yg klop dan sesuai kriteria yang diberikan eh tidak disetujui. Rasanyaaaaaa yaaa seperti sedikit perih2 aneh. Untunglah kesibukan bekerja dan berkarir mampu mengalihkan semua rasa sedih.

Jadi, semua ini bermula ketika saya ingin menchallenge kehidupan yang cukup stabil ini. Hhhmmmmm, mulailah memutuskan untuk memperbaiki kehidupan asmara. Jadi mencari jodoh ini bukan semata-mata karena desparate menjadi seorang jomblo. Lebih kepada, I need to go to the next level of my life, hahahahahahahaha. Kalau diingat-ingat, ayah pernah menitipkan pesan, “Yang penting agamanya, biar bisa mengarahkan ke jalan yang lebih baik” 

Pesan beliau masih saya pegang sambil menjalankan pesan dari Abeng, teman kerja di Organisasi. “Ca, coba ini deh, gampang nyari pasangan”

Bagi beberapa orang, aplikasi ini masih menjadi prokontrak, mengingat banyak yang menyalahgunakan untuk keperluan pergaulan bebas. Dengan mengucap bismillah, mari kita menjadikan aplikasi Tinder ini menjadi salah satu usaha :D mohon berhati-hati yaaaaa….

Jadi ada 2 hari yang saya dedikasikan untuk menggunakan aplikasi tinder. Sabtu dan Minggu saya mulai swipe kiri swipe kanan. Dan kemudian menemukan sosok berkumis dan garang dengan tulisan kecil florist. Mungkin sosok ini cocok jadi teman, siang swipe kanan tanda mengajukan tanda setuju di siang hari, kami ngobrol hingga malam. Doi juga baru download Tinder 2 hari. Katanya, sebagai salah satu usaha untuk menemukan seorang istri juga. Kami lalu berpindah ke WA, mengingat we are not really into Tinder things. 

oh iya selain usaha Tinder ini, saya mulai rutin mengaji. Setiap selesai selembar, saya mulai berdoa, ya Allah temukanlah saya dengan jodoh. Selain itu saya menuliskan di buku kecil kriteria calon pendamping hidup yang saya inginkan. Jadi memantapkan diri, untuk bertemu dengan jodohlah.

Setelah bercerita mulai siang smpai malam melalui Whatsapp, saya mulai membuka diri dan mengakui kalau memang sedang mencari pasangan hidup. Ecieeeeeeeeee…….. bayangkan bagaimana romantisnya seorang florist. Dikelilingi mawar melati setiap hari. Tapi ternyata, ada sisi kehidupan yang tidak wangi semerbak, mas Herman harus bekerja keras sejak Ayahnya meninggal. Menghidupi 6 orang saudara dan ibu dari jualan bunga di pasar Cikunir, Bekasi. Jualan bunga papan, bunga vas dan dekorasi.

“Eh websitenya jelek nih, mana bisa jualan bunga online kalau nggak jelas” sambil menawarkan diri menjadi content writer websitenya saya mulai komplain mengenai struktur website nya
“Itu dulu dibuat sama mantan saya, kamu jangan marah, kalau mau tolong bikinkan 1 artikel mengenai bunga dong” 

Salah satu contoh tulisannya bisa dilihat di sini.

Mmmmm sepertinya dia mulai mencari-cari alasan untuk memperpanjang topik pembicaraan ini. Setelah urusan artikel selesai dia mulai bertanya

“Kamu mau menikah dengan saya ?” 
Lah nih orang, kemarin minta artikel, hari ini minta dinikahin. 

Kemudian teringat dengan niat awal sebelum bertemu, yaaaaaa untuk bertemu jodoh.
“Ya sudahlah, nanti aku kabarin ke orang tua dulu, kalau ad yang mau melamar” kupikir dia juga bisa ngajar ngaji seperti kriteria yang pernah saya tuliskan di awal. Let’s try!

…to be continued 


2 komentar: