Senin, 13 Januari 2020

Mencintai Tukang Bunga (Part 6)

Yang belum baca part sebelumnya sebaiknya cek di sini :

Part I : http://www.cassiopeiaflorist.com/2019/01/mencintai-tukang-bunga-part-i.html
Part V : http://www.cassiopeiaflorist.com/2019/12/mencintai-tukang-bunga-part-v.html

Tepat sehari sebelum tanggal 27 Oktober 2018, saya, sepupu saya dan keluarga mas Herman satu pesawat untuk menuju Makassar berencana baik untuk melangsungkan lamaran.

Sesungguhnya sempat ada keraguan saat ingin melangkah ke jenjang ini. Konflik antara saya dan ibu adalah alasannya. Di adat Bugis, yang dipegang teguh keluarga saya, mengundang seluruh sanak saudara serta keluarga adalah hal yang wajib untuk dilakukan menjelang hari lamaran. Sedangkan saya bersikeras hanya ingin ada keluarga inti masing-masing.

"Ibu kasian mas Herman, tidak ada uangnya kodong belum bayar pesawat dan lain-lain, berhenti mki itu pikir masalah adat bu, nomor satukan mki urusan agama" dengan logat Makassar saya menelfon ibu berkali-kali sebelum hari lamaran untuk memastikan tidak ada pemborosan.

"Jammeko hawatirkan. Disini di Makassar, pamali kalau orang datang dengan niat baik tapi tidak disambut. Ingat, hanya keluarga nya saja, tidak boleh mas Herman ikut dalam acara lamaran. Yang pasang cincin nanti ibunya, tanda kau sudah dilamar. Jangan pikirkan masalah biaya terus, mantapkan hati, kalau lamaran saja sudah bikin kau pusing dengan biayanya, bagaimana nanti kehidupan rumah tangga mu, serahkan sama Allah"

Penjelasan Ibu membuat saya mengalah, yang akhirnya pada acara lamaran kami ada sekitar 50an orang hadir turut memberi selamat dan saling bersuka cita.

Sesuai adat Bugis keluarga yang ingin melamar membawa berbagai hadiah kepada calon pengantin wanita. Pada hari itu, keluarga Mas Herman tiba di rumah dengan membawa buah-buahan hingga 3 roti buaya kecil yang dibawa sebagai penanda lelaki betawi-lah yang akan mempersunting wanita bugis.

"Kenapa roti buayanya kecil sekali? takut ketukar sama calon mempelai wanitanya" Canda ku kepada keluarga yang pasti tau ukuran baju aku tidak pernah kurang dari XL. Yah, wajar saja, apakata dunia kalau di kabin pesawat ada roti buaya 1,5 meter ?

Tiga roti buaya itu mewakili ayah, ibu dan anak yang melambangkan kesetiaan hewan buaya dan kesabarannya dalam menunggu mangsa. Tapi hati-hati kalau sudah naik di darat, lain lagi namanya hehehhehe.

Selain roti buaya, hampir semua seserahan disiapkan Mama, adik ibu yang sudah kuanggap seperti orang tua. Meskipun di keluarga nenek, ini adalah acara lamaran ketiga, baru kali ini di keluarga kami ada yang menikah orang yang datang sangat jauh.

Seluruh keluarga inti duduk dalam lingkaran besar, berdiskusi mengenai persiapan menuju pernikahan. Pada hari itu, Ayah mengumumkan tanggal pernikahan yang sebenarnya sudah kusepakati bersama Ibu dan keluarga lainnya serta ku konfirmasi kembali ke Mas Herman. Bersyukur dia menyanggupinya walau harus lebih giat menabung agar niat baik ini dapat tercapai dalam 2 bulan setelah lamaran.

Jika di adat Bugis ada istilah "uang panaik" yang cukup tinggi dan biasanya ditakuti untuk melamar wanita Bugis, beruntung keluarga hanya mensyaratkan asal uang belanja untuk pesta pernikahan cukup, mahar dan seluruh rukun nikah yang harus di prioritaskan. Seperti nya ini sebuah tanda bahwa keluarga telah setuju untuk melanjutkan ketahap pernikahan dengan mempermudah proses ini.

"Ica itu sama saya saat berusia kurang dari setahun sampai mau masuk SD. Selalu membawa kebahagiaan buat keluarga kecil kami, jadi semoga dengan acara lamaran ini ketika Ica menjadi bagian keluarga Mas Herman, dia tetap membawa kebahagiaan dimana saja" kata penutup dari Mama ini berhasil membuat acara lamaran semakin haru.

Selesai acara kami lalu bersantap siang bersama seluruh para tamu undangan. Tidak terlihat mas Herman saat itu. Adat Bugis sama seperti syariat Islam, sebaiknya hanya keluarga yang saling bertemu hingga hari pernikahan. Padahal kemarin kami sempat satu pesawat hanya untuk sedikit mempermudah. Alhamdulillah, acara lamaran ditutup dengan foto kami berdua tanpa ketahuan Ibu yang sedang berbalik badan menuangkan porsi tambahan untuk hidangan bakso.

"Mas Herman, sini..... buruan foto" kuambil kesempatan dalam kesempitan saat Mas Herman disuruh masuk kerumah ikut makan siang dan akhirnya foto inilah yang menjadi pengumuman kami di instagram untuk kabar baik di Bulan Desember 2018.

"Jangan terlalu mallea (ganjen) Ica! tegur ibu yang menyadari kami berfoto layaknya pasangan yang sudah sah, hehehehheheh.

Yang kuingat saat itu Ayah ikut larut dalam haru dan seluruh keluarga sangat  bahagia. Inilah ketika anak keduanya yang konon malas menikah dan tidak memikirkan jodoh berbalik arah. Sesungguhnya hanya Allah lah yang menggerakkan hati ini. Semoga tetap terus menjadi berkah.

Yang kutau belakangan ini ternyata adat Betawi juga hanya mengijinkan keluarga yang saling bertemu, bukan calon mempelai.

Alhamdulillah, terlalui sudahlah 2 jenjang menuju pernikahan, masa taaruf dan masa lamaran.

Selanjutnya apakah persiapan 2 bulan menuju pernikahan baik-baik saja? Bagaimana kami deal dengan LDP alias Long Distance Preparation? Serta bagaimana Mas Herman mengumpulkan uang belanja persiapan pesta? Tunggu cerita selanjutnya .....(to be continued)

0 komentar:

Posting Komentar